SEJARAH
PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT
1.1 SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT
DI DUNIA
1. Perode Sebelum Ilmu Pengetahuan
Sejarah perkembangan kesehatan
msyarakat tidak hanya dimulai dengan munculnya ilmu pengetahuan saja melainkan
sudah mulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Dimulai dari zaman
pra sejarah tahun 3000 sebelum masehi (SM), manusia telah berevolusi dari
spesies Homo Habilis dan Homo Erectus menjadi Homo Sapiens selama kurang lebih 4
sampai 5 juta tahun yang lalu. Homo
Sapiens muncul setengah juta tahun yang lalu dan tidak mencapai potensi
yang penuh sampai setelah zaman es terakhir, sekitar 12 ribu tahun yang lalu.
Manusia purba adalah pemburu-pengumpul yang menggunakan batu dan tongkat
sebagai senjata untuk membunuh hewan lain dan satu sama lain. Mereka memelihara
binatang, menambahkan keterampilan mereka dalam pertanian, dan menetap di
wilayah pesisir dan lembah sungai 10 sampai 12 ribu tahun yang lalu.
Masyarakat pra sejarah mampu
bertahan terhadap kondisi alam yang keras dengan kemampuan dan perilaku yang
telah mereka jalani pada masanya. Proses seleksi alam telah mengubah pola pikir
masyarakat primitif untuk dapat bertahan menghadapi situasi alam yang tejadi
pada masa itu dan dengan keterampilan dan perilaku membuat mereka tetap sehat
di lingkungannya. Kesemuanya itu, dilakukan melalui proses mencoba dan belajar
dari kesalahan serta seleksi alam. Masyarakat pra sejarah hidup dengan cara
nomaden, yaitu selalu berpindah tempat, dan mereka belum memiliki nalar
bagaimana bagian dari tubuh manusia bekerja secara sistem. Para ahli
antropologi menemukan bukti-bukti bahwa masyrakat primitif saat itu belum
menyadari bahwa tindakan seks dapat menyebabkan proses kehamilan.
Masyarakat pra sejarah sangat
bergantung pada alam dan unsur di dalamnya di mana sistem kepercayaan mereka
masih memerlukan pertolongan para roh nenek moyang. Hal ini dikatakan untuk
membawa kehidupan, kematian, kesehatan, dan penyakit. Ide tersebut menyebabkan
sebuah dunia di mana ritual roh dan kekuatan alam, atau penyihir mendominasi
pengobatan dan penyembuhan.
Dari kebudayaan di Babilonia,
Mesir, Yunani, dan Roma meanusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi
masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa
pada zaman tersebut tercatat
dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur
pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota dan pengaturan
air minum. Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 (dua) tokoh
metologi Yunani, yakni Aesculapius dan Hygeia. Berdasarkan cerita mitos Yunani
tersebut Aesculapius disebutkan sebagai seorang dokter tampan dan pandai
meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya
tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan
pembedahan berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik. Hygeia, seorang asistennya, yang
kemudian menjadi istrinya juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Perbedaan
antara Aesculapius dan Hygeia dalam pendekatan/penanganan masalah kesehatan
adalah, Aesculapius melakukan pendekatan pengobatan penyakit, setelah penyakit
tersebut terjadi pada seseorang. Sedangkan Hygeia mengajarkan kepada
pasien-pasiennya, pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”,
menghindari makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup
istirahat dan melakukan olahraga. Apabila orang yang jatuh sakit Hygeia lebih
menganjurkan melakukan upaya-upaya alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya
tersebut, antara lain dengan lebih baik memperkuat tubuhnya dengan makanan yang
baik daripada dengan pengobatan/pembedahan.
Dari cerita mitos Aesculapius
dan Hygeia tersebut, akhirnya muncul 2 (dua) aliran atau pendekatan dalam
menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama cenderung
menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut
pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter,
dokter gigi, psikiater, dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan
penyakit baik fisik, psikis, mental maupun sosial.
Filsuf Yunani bernama
Hippocrates (460-377 SM), yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, dalam
salah satu tulisannya berspekulasi tentang peran makanan dalam “pemeliharaan
kesehatan dan penyembuhan penyakit” yang
menjadi dasar perkembangan ilmu dietetika yang belakangan dikenal dengan
“Terapi”.
Mesir Kuno juga sudah
menekankan pentingnya kebersihan, tetapi hal ini untuk tujuan keagamaan atau
status sosial, bukan dilakukan dalam rangka pemeliharaan status kesehatan
masyrakat. Para ahli arkeologi telah menemukan bukti-bukti sejarah yang ada
bahwa pada masa itu, masyarakat Mesir pada umumnya telah memiliki kamar mandi
sederhana dan jamban. Masyarakat Mesir memperhatikan penampilan dan kebersihan pribadi, dan terdapat bukti lainnya
menunjukkan bahwa mereka menggunakan rias mata bertujuan melindungi mata mereka
dari penyakit. Begitupun saat mereka beristirahat tidur menggunakan kelambu.
Petinggi agama menjadi contoh bagi masyarakat Mesir Kuno dalam kesehariannya,
mereka menjaga kebersihan diri dengan sangat hati-hati. Mereka secara teratur
membasuh diri mereka, pakaian dan cangkir minum. Mesir tidak menggunakan
kebersihan untuk menangkal penyakit, melainkan untuk menarik dewa-dewa, dengan
menggunakan mantra, jimat, dan jampi-jampi. Mereka tidak memiliki sistem
kesehatan masyarakat yang modern seperti
saluran pembuangan terorganisir, kesehatan umum dan perawatan medis.
Pada zaman ini juga diperoleh
catatan bahwa telah dibangun tempat pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrin tersebut bukan
karena kesehatan. Dibangunnya latrin umum pada saat itu bukan karena tinja atau
kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak enak
dan pandangan yang tidak menyedapkan. Demikian juga masyarakat membuat sumur
pada waktu itu dengan alasan bahwa minum air sungai yang mengalir dan kotor itu
tidak terasa enak, bukan karena minum air sungai dapat menyebabkan penyakit
(Greene, 1974).
Dari dokumen lain tercatat
bahwa pada zaman Romawi Kuno telah dikeluarkan peraturan yang mengharuskan
masyarakat melaporkan setiap kegiatan dalam pembangunan rumah, melaporkan
adanya binatang-binatang yang berbahaya, dan binatang peliharaan yang
menimbulkan bau. Bahkan pada waktu itu telah ada keharusan pemerintah kerajaan
harus melakukan supervisi atau peninjauan kepada tempat minum-minum (public bar), warung makan, dan
tempat-tempat pelacuran (Hanlon, 1974).
Dari berbagai catatan tersebut
dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran penyakit
menular sudah begitu meluas, namun upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat
secara menyeluruh belum banyak dilakukan pada zaman itu. Pada permulaan abad
pertama sampai kira-kira abad ke-7 kesehatan masyarakat makin dirasakan kepentingannya
karena berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk
dan telah menjadi epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi.
Sejak abad ke-7, penyakit Kolera
telah tercatat menyebar dari Asia khususnya dari Timur Tengah dan Asia Selatan
ke Afrika. India sejak abad ke-7 disebutkan telah menjadi pusat endemi Kolera.
Di samping itu, penyakit Lepra (disebut juga Penyakit Kusta) juga telah
menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para pendatang.
Dalam upaya mengatasi epidemi
dan endemi penyakit, telah mulai diperhatikan masalah lingkungan, terutama
hygiene dan sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin),
pengusahaan air minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah
tercatat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada waktu itu.
Pada abad ke-14, tepatnya di
tahun 1340, terjadi wabah penyakit Pes (disebut juga sebagai penyakit Sampar)
yang dahsyat di negara Cina, India dan Mesir. Tercatat ratusan ribu orang
meninggal di negara-negara tersebut. pada tahun 1377 kota Roguasa menetapkan
peraturan bahwa penumpang dari daerah terjangkit Penyakit Pes harus tinggal di
suatu tempat di luar pelabuhan selama 2 bulan supaya bebas dari penyakit.
Itulah sejarah tindakan karantina dalam bentuk isolasi pertama kali dilakukan
terhadap manusia. Pada tahun 1383 di Marseille, Prancis, ditetapkan UU
Karantina yang pertama dan didirikan Station Karantina yang pertama.
Oleh sebab itu, wabah penyakit
Pes disebut “The Black Death”.
Keadaan atau wabah penyakit-penyakit menular ini berlangsung sampai menjelang
abad ke-18. Di samping wabah Pes, wabah Kolera dan Tipus masih terus
berlangsung.
Pada tahun 1603 lebih dari 1
di antara 6 orang meninggal, dan pada tahun 1663 sekitar 1 di antara 5 orang
meninggal karena penyakit menular. Pada tahun 1759, 70.000 orang penduduk
kepulauan Cyprus meninggal karena penyakit menular. Penyakit-penyakit lain yang
menjadi wabah pada waktu itu antara lain adalah penyakit Difteri, Tipus, dan
Disentri.
Memasuki abad ke-16 berkembang
doktrin bahwa bukan saja pemeliharaan kesehatan yang dapat dicapai dengan
pengaturan makanan tetapi juga hubungan antara makanan dan usia. Misalnya
Cornaro, yang hidup lebih dari 100 tahun (1366-1464) dan Francis Bacon
(1561-1626) berpendapat bahwa “makanan yang diatur dengan baik dapat
memperpanjang umur”. Memasuki abad ke-17 dan ke-18, berbagai temuan baik yang
bersifat kebetulan maupun dirancang memperjelas hubungan antara makanan dengan
kesehatan.
2. Periode Ilmu Pengetahuan
Bangkitnya ilmu pengetahuan
pada abad ke-18 dan awal abad ke -19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala
aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Bila pada abad-abad terdahulu
masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis
dengan pendekatan yang dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai
abad ke-19 masalah kesehatan mulai dipandang sebagai masalah yang kompleks.
Oleh sebab itu, pendekatan masalah kesehatan perlu kiranya dilakukan secara
komprehensif dan multisektoral.
Di samping itu, pada abad ilmu
pengetahuan juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin
sebagai pencegah penyakit. Louis Pasteur telah berhasil menemukan vaksin untuk
mencagah penyakit Cacar, Joseph Lister menemukan asam carbol (carbolic acid) untuk sterilisasi ruang
operasi dan William Marton menemukan ether sebagai obat anestesi pada waktu
operasi.
Pada abad ke-18 ditemukan
adanya hubungan antara proses pernapasan yaitu proses masuknya oksigen ke dalam
tubuh dan keluarnya karbondioksida, dengan pengolahan makanan dalam tubuh oleh
Antoine Laurent Lavoisier (1743-1974). Lavoisier bersama seorang ahli fisika
Laplace merintis untuk pertama kalinya penelitian kuantitatif mengenai
pernapasan dengan percobaan binatang kelinci. Oleh karena itu, Lavoisier selain
sebagai Bapak Ilmu Kimia, di kalangan ilmuwan gizi dikenal juga sebagai Bapak
Ilmu Gizi Dunia.
Penyelidikan dan upaya
kesehatan masyarakat secara ilmiah dilakukan pada tahun 1832 di Inggris. Pada
waktu itu sebagian besar rakyat Inggris terserang wabah Kolera, terutama
terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang miskin. Kemudian
parlemen Inggris membentuk komisi dan
penyelidikan dan penanganan masalah wabah Kolera ini.
Edwin Chadwick seorang pakar
sosial (social scientist), juga
sebagai ketua komisi tersebut melaporkan hasil penyelidikannya sebagai berikut;
Masyarakat hidup di suatu kondisi sanitasi yang jelek, sumur penduduk
berdekatan dengan aliran air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah
yang mengalir terbuka tidak teratur, makanan yang dijual di pasar banyak
dikerumuni lalat dan kecoa. Di samping itu, ditemukan sebagian besar masyarakat
miskin, bekerja rata-rata 14 jam per hari, dengan gaji yang di bawah kebutuhan
hidup sehingga sebagian masyarakat tidak mampu membeli makanan yang bergizi.
Laporan Chadwick ini
dilengkapi dengan analisa data statistik yang bagus dan sahih. Berdasarkan
laporan hasil penyelidikan Chadwick ini, akhirnya parlemen mengeluarkan
undang-undang yang isinya mengatur supaya kesehatan penduduk, termasuk sanitasi
lingkungan, sanitasi tempat kerja, dan pabrik. Pada tahun 1848, John Simon
ditunjuk oleh pemerintah Inggris untuk menangani masalah kesehatan penduduk.
Pada era ini banyak penyakit
tropis meluas ke Eropa Utara dan Amerika Utara (abad 17-19). Beberapa penyakit
yang menandai era itu, misalnya Plasmodium Vivax (Malaria), Plague, Tipus,
Kolera dan Cacar. Ilmu kedokteran tropis berasal dari Inggris, yang
dikembangkan sebagai komponen penting dari Future
Development of British Economic and Social Imperialism. Berbagai disiplin
ilmu yang terlibat antara lain adalah kesehatan masyarakat, perjalanan dan
eksplorasi, ilmu pengetahuan alam, teori evolusi, dan pengetahuan tentang
penyebab penyakit.
Beberapa lembaga dan perguruan
tinggi dunia yang mengembangkan ilmu kedokteran tropis di antaranya adalah di School of Tripical Medicine, London
(1899), Liverpool School of Tropical
Medicine (1899), London School og
Hygiene and Trapical Medicine (1929), Ross
Institute for Tropical Hygiene (1934). Pada akhir abad ke-19 dan awal abad
ke-20 mulai dikembangkan pendidikan John Hopkins, seorang pedagang wiski dari
Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas dan di dalamnya terdapat
sekolah (Fakultas) Kedokteran.
Tahun 1908 sekolah kedokteran
mulai berdiri dan menyebar ke Eropa, Kanada, dan sebagainya. Dari kurikulum
sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah
diperhatikan. Tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan
penerapan ilmu di masyarakat. Pengembangan kurikulum sekolah kedokteran sudah
didasarkan pada suatu asumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan hasil
interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan
sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan
kedokteran/kesehatan.
Dari segi pelayanan kesehatan
masyarakat, pada tahun 1855 pemerintah Amerika telah membentuk Departemen
Kesehatan yang pertama. Fungsi departemen ini adalah menyelenggarakan pelayanan
kesehatan bagi penduduk (public),
termasuk perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.
Departemen kesehatan ini
sebenarnya merupakan peningkatan departemen kesehatan kota yang telah dibentuk
di masing-masing kota, seperti Baltimore telah terbentuk pada tahun 1798, South
Carolina tahun 1813, dan di Philadelphia tahun 1818.
Pada tahun 1872 diadakan
pertemuan orang-orang yang mempunyai perhatian kesehatan masyarakat baik dari
universitas maupun dari pemerintah kota di New York. Pertemuan tersebut
menghasilkan berdirinya Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public Health Association).
Deklarasi Alma-Ata tahun 1978
diadopsi pada Konferensi Internasional WHO (World
Health Organization) tentang kesehatan. Hasil konferensi itu antara lain
mengemukakan pentingnya tindakan mendesak oleh pemerintah, petugas kesehatan dan
masyarakat dunia untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan semua orang.
Deklarasi ini merupakan deklarasi internasional pertama yang menggarisbawahi
pentingnya perawatan kesehatan primer, yang sejak itu diterima oleh
negara-negara anggota Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kunci untuk mencapai
tujuan “Kesehatan Untuk Semua”.
1.2 SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT
DI INDONESIA
1. Masa Pra Kemerdekaan
Sejarah perkembangan kesehatan
masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16.
Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya
pemberantasan penyakit Cacar dan Kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada
waktu itu.
Kolera masuk ke Indonesia
tahun 1927 dan tahun 1937 terjadi wabah Kolera Eltor di Indonesia kemudian pada
tahun 1948 penyakit Cacar masuk ke Indonesia melalui Singapura dan mulai
berkembang di Indonesia. Berawal dari wabah Kolera tersebut maka pemerintah
Belanda melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
Bidang kesehatan masyarakat
lain, pada tahun 1807 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendles,
dilakukan pelatihan praktik persalinan untuk dukun bayi. Akan tetapi, upaya ini
tidak berlangsung lama karena langkanya tenaga pelatih kebidanan. Pada tahun
1930, pelatihan di mulai lagi dengan didaftarnya para dukun bayi sebagai
penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman
kemerdekaan pelatihan dukun bayi dilakukan lagi secara lebih cermat.
Pada tahun 1851 sekolah dokter
Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala pelayanan kesehatan sipil dan militer dan
dr, Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Arsten)
atau sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Setelah itu pada tahun 1913
didirikan sekolah dokter yang kedua di Surabaya dengan nama NIAS (Nederland Indische Arsten School).
Belanda mendirikan Laboratorium
Kesehatan (15-1-1888) di Jakarta. Tujuan menanggulangi Penyakit
Beri-Beri di Indonesia dan Asia.
Pada tahun 1927, STOVIA
berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya Universitas
Indonesia tahun 1947 berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kedua sekolah tersebut mempunyai andil yang sangat besar dalam menghasilkan
tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat
Indonesia.
Tidak kalah pentingnya dalam
mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah berdirinya Pusat
Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun 1888. Pada tahun 1958, pusat
laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eykman dan selanjutnya disusul
didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya, dan
Yogyakarta. Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting
dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti Malaria, Lepra, dan Cacar
bahkan untuk bidang kesehatan yang lain seperti gizi dan sanitasi.
Pada tahun 1922 penyakit Pes
masuk Indonesia dan pada tahun 1933, 1934 dan 1958 terjadi epidemi di beberapa
tempat, terutama di pulau Jawa. Mulai tahun 1935 dilakukan program pemberantasan
Pes dengan melakukan penyemprotan DDT (Dichloro
Dyphenil Trichloroethane) terhadap rumah-rumah penduduk dan juga vaksinasi
massal. Tercatat pada tahun 1941, 15.000.000 orang telah memperoleh suntikan
vaksinasi.
Hydrich, seorang petugas
kesehatan pemerintah Belanda pada tahun 1925, melakukan pengamatan terhadap
masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-Purwokerto pada
waktu itu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya tersebut ia menyimpulkan bahwa
penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini adalah karena jeleknya
kondisi sanitasi lingkungan. Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di
sembarang tempat, di kebun, selokan, kali, bahkan di pinggir jalan padahal
mereka mengambil air minum juga dari kali. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa
kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku penduduk. Oleh sebab
itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat, Hydrich mengembangkan daerah
percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan.
Sampai sekarang usaha Hydrich sebagai awal kesehatan masyarakat dan pendidikan
kesehatan di Indonesia.
Tahun 1930, De Hass menemukan
defisiensi Vitamin A, (1935) dan meneliti tentang KEP (Kurang Energi Protein).
Tahun 1919, Jansen dan Donath meneliti masalah Gondok di Wonosobo, kemudian
oleh pemerintah Hindia Belanda memfasilitasi pembentukan Lembaga Eijkman.
Beberapa kegiatannya berupa survei gizi di tahun 1927-1942 oleh Jansen dan
kawan-kawan pada 7 (tujuh) lokasi bertempat di pulau Jawa, Pulau Seram, dan
Lampung yang bertujuan untuk mengamati pola makan, keadaan gizi, pertanian dan
perekonomian. Lembaga ini juga berhasill melakukan analisis bahan makanan yang
sekarang dikenal sebagai Daftar Komposisi Bahan Makanan disingkat atau dikenal
DKBM. Dr. Y. Sulianti Saroso mendirikan “Proyek Bekasi” sebagai proyek
percontohan/model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat
pelatihan, sebuah model keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan
pelayanan medis.
2. Masa Era Kemerdekaan
a.
Masa orde lama
Lembaga Makanan Rakyat berada
di bawah Kementrian Kesehatan RI, yang diketuai oleh Bapak Poerwo Soedarmo juga
berhasil mempromosikan gizi yang baik dengan istilah “Empat Sehat Lima
Sempurna” yang begitu populer pada tahun 1950 hingga pemerintahan dan juga ikut
mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Pada tahun 1951 konsep Bandung
Plan diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yaitu konsep pelayanan
yang menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif. Tahun 1956
didirikannya proyek Bekasi oleh Dr. Y. Sulianti Saroso di Lemah Abang, yaitu
model pelayanan kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga. Kemudian
didirikan Health Centre (HC) di 8 (delapan) lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut),
Bojong Loa (Jabar), Salaman (Jateng), Mojosari (Jatim), Kesiman (Bali), Metro
(Lampung), Daerah Istimesa Yogyakarta (DIY), dan Kalimantan Selatan.
Pada tanggal 12 November 1962
Presiden mencanangkan pemberantasan Malaria dan pada tanggal tersebut kemudian
menjadi Hari Kesehatan Nasional (HKN). Pada tahap ini Indonesia ditandai dengan
pencanangan Kopem (Komando Pemberantasan Malaria) oleh Presiden Soekarno yang
kemudian diikuti penyemprotan nyamuk Malaria secara simbolis pada tanggal 12
November 1964, di desa Kalasan, kota Yogyakarta, yang kemudian kita kenal
sebagai Hari Kesehatan Nasional itu. Di kemudian hari Kopem ini merupakan cikal
bakal lahirnya konsep dan lembaga Puskesmas.
b.
Masa orde baru
Pada bulan November 1967,
dilakukan seminar yang membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat
terpadu sesuai dengan kondisi dan kemampuan
rakyat Indonesia. Pada waktu itu dibahas konsep Puskesmas yang dibawakan
oleh dr. Achmad Dipodilogo, yang mengacu kepada Konsep Bandung Plan dan Proyek
Bekkasi. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem Puskesmas yang
terdiri dari tipe A, B, dan C. Dengan
menggunakan hasil-hasil seminar tersebut Departemen Kesehatan menyiapkan
rencana induk pelayanan kesehatan terpadu di Indonesia. Akhirnya pada tahun
1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskemas adalah
merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh
pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas). Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan
pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh, dan mudah
dijangkau, dalam wilayah kecamatan atau sebagian kecamatan di kota madya atau
kabupaten. Kegiatan Puskesmas pada saat itu dikenal dengan istilah “Basic”. Ada Basic 7, Basic 13 Health
Service. Kegiatan pokok Puskesmas mencakup:
1)
Kesehatan ibu dan anak
2)
Keluarga berencana
3)
Gizi
4)
Kesehatan lingkungan
5)
Pencegahan penyakit menular
6)
Penyuluhan kesehatan masyarakat
7)
Pengobatan
8)
Perawatan kesehatan masyarakat
9)
Usaha kesehatan gizi
10) Usaha
kesehatan sekolah
11) Usaha
kesehatan jiwa
12) Laboratorium
13) Pencatatan
dan pelaporan.
Pada tahun 1969, sistem
Puskesmas hanya disepakati 2 (dua) saja, yakni tipe A dan B, di mana tipe A
dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh seorang paramedis
saja. Dengan adanya perkembangan tenaga medis, maka akhirnya pada tahun 1979
tidak diadakan perbedaan Puskesmas tipe A atau tipe B, hanya ada satu tipe
Puskesmas saja, yang dikepalai oleh seorang dokter. Pada tahun 1979 juga
dikembangkan satu piranti manajerial guna penilaian Puskesmas, yakni
stratifikasi Puskesmas sehingga dibedakan adanya:
1)
Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat
baik
2)
Strata dua : Puskesmas dengan prestasi
rata-rata atau standar
3)
Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi di
bawah rata-rata
Pada tahun 1978 Indonesia ikut
menandatangani kesepakatan Visi: “Health
For All By The Year 2000”, di Alma Ata, negara bekas Federasi Uni Soviet,
pengembangan dari konsep “Primary Health
Care”. Tahun 1979 Puskesmas menghapuskan pen-tipe-an dan dikembangkan Stratifikasi
Puskesmas. Pada tahun 1984 dikembangkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), yaitu
pengembangan dari Pos Penimbangan dan karang gizi. Posyandu dengan 5
programnya, yaitu KIA, KB, Gizi, Penanggulangan Diare dan Imunisasi dengan 5
Meja (Notoadmodjo, 2005). Selanjutnya Posyandu bukan saja untuk pelayanan
Balita tetapi juga untuk pelayanan ibu hamil. Bahkan pada waktu-waktu tertentu
untuk promosi dan distribusi vit.A, Fe, Garam Yodium, dan suplemen gizi
lainnya. Posyandu saat ini juga menjadi andalan kegiatan penggerakan masyarakat
(mobilisasi sosial) seperti PIN, Campak, Vit.A dan sebagainya.
c.
Masa pra reformasi
Tahun 1997 Indonesia mengalami
krisis ekonomi. Kemiskinan meningkat, kemampuan daya beli masyarakat rendah,
menyebabkan akses ke pelayanan kesehatan rendah, kemudian dikembangkan program
kesehatan untuk masyarakat miskin yaitu, Jaminan Pelayanan Sosial Bidang
Kesehatan (JPS-BK) pada tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi berbagai
bidang termasuk pemerintahan dan menjadi negara yang menganut paham demokrasi.
Tahun 2001 ekonomi daerah
mulai dilaksanakan dan dikenal sebagai desentralisasi. Program-program
kesehatan bernuansa desentralisasi dan sebagai konsekuensi negara demokrasi,
program-program kesehatan juga banyak yang bernuansa “politis”. Tahun 2003
JPS-BK kemudian menjadi PKPS-BBM Bidang Kesehatan, tahun 2005 berubah lagi
menjadi Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Askeskin). Pada saat itu juga
dikembangkan Visi Indonesia Sehat 2010 dengan Paradigma Sehat. Puskesmas dan
Posyandu masih tetap eksis, bahkan Posyandu menjadi andalan ujung tombak
“mobilisasi sosial” bidang kesehatan.
Dalam era otonomi dan
demokrasi menuntut akuntabilitas dan kemitraan, sehingga berkembang Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) baik bidang kesehatan, maupun bukan menuntut akuntabilitas
tersebut dalam berbagai bentuk partisipasi. Sebagai ‘partnership’ LSM-LSM
tersebut program kesehatan yang bertanggung jawab adalah Promosi Kesehatan.
Promosi kesehatan harus
menjadi ujung tombak semua program kesehatan dan melakukan sosialisasi Visi Indonesia Sehat 2010 untuk mengubah
paradigma sehat bagi petugas kesehatan dan masyarakat. Tugas lain promosi
kesehatan melakukan advokasi, komunikasi kesehatan dan mobilisasi sosial, baik
kepada pihak legislatif, eksekutif maupun masyarakat itu sendiri. Terutama
melalui kemitraan dengan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM).
Referensi:
1.
Wibowo, Adik. 2014. Kesehatan Masyarakat di Indonesia: Konsep, Aplikasi dan Tantangan Ed.1,
Cet.1. Jakarta: Rajawali Pers.
2.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip
Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta
