Minggu, 25 Februari 2018

SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT


SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT

1.1    SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT DI DUNIA
1.       Perode Sebelum Ilmu Pengetahuan
Sejarah perkembangan kesehatan msyarakat tidak hanya dimulai dengan munculnya ilmu pengetahuan saja melainkan sudah mulai sebelum berkembangnya ilmu pengetahuan modern. Dimulai dari zaman pra sejarah tahun 3000 sebelum masehi (SM), manusia telah berevolusi dari spesies Homo Habilis dan Homo Erectus menjadi Homo Sapiens selama kurang lebih 4 sampai 5 juta tahun yang lalu. Homo Sapiens muncul setengah juta tahun yang lalu dan tidak mencapai potensi yang penuh sampai setelah zaman es terakhir, sekitar 12 ribu tahun yang lalu. Manusia purba adalah pemburu-pengumpul yang menggunakan batu dan tongkat sebagai senjata untuk membunuh hewan lain dan satu sama lain. Mereka memelihara binatang, menambahkan keterampilan mereka dalam pertanian, dan menetap di wilayah pesisir dan lembah sungai 10 sampai 12 ribu tahun yang lalu.
Masyarakat pra sejarah mampu bertahan terhadap kondisi alam yang keras dengan kemampuan dan perilaku yang telah mereka jalani pada masanya. Proses seleksi alam telah mengubah pola pikir masyarakat primitif untuk dapat bertahan menghadapi situasi alam yang tejadi pada masa itu dan dengan keterampilan dan perilaku membuat mereka tetap sehat di lingkungannya. Kesemuanya itu, dilakukan melalui proses mencoba dan belajar dari kesalahan serta seleksi alam. Masyarakat pra sejarah hidup dengan cara nomaden, yaitu selalu berpindah tempat, dan mereka belum memiliki nalar bagaimana bagian dari tubuh manusia bekerja secara sistem. Para ahli antropologi menemukan bukti-bukti bahwa masyrakat primitif saat itu belum menyadari bahwa tindakan seks dapat menyebabkan proses kehamilan.
Masyarakat pra sejarah sangat bergantung pada alam dan unsur di dalamnya di mana sistem kepercayaan mereka masih memerlukan pertolongan para roh nenek moyang. Hal ini dikatakan untuk membawa kehidupan, kematian, kesehatan, dan penyakit. Ide tersebut menyebabkan sebuah dunia di mana ritual roh dan kekuatan alam, atau penyihir mendominasi pengobatan dan penyembuhan.
Dari kebudayaan di Babilonia, Mesir, Yunani, dan Roma meanusia telah melakukan usaha untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan masyarakat dan penyakit. Telah ditemukan pula bahwa pada zaman tersebut  tercatat dokumen-dokumen tertulis, bahkan peraturan-peraturan tertulis yang mengatur pembuangan air limbah atau drainase pemukiman pembangunan kota dan pengaturan air minum. Membicarakan kesehatan masyarakat tidak terlepas dari 2 (dua) tokoh metologi Yunani, yakni Aesculapius dan Hygeia. Berdasarkan cerita mitos Yunani tersebut Aesculapius disebutkan sebagai seorang dokter tampan dan pandai meskipun tidak disebutkan sekolah atau pendidikan apa yang telah ditempuhnya tetapi diceritakan bahwa ia telah dapat mengobati penyakit dan bahkan melakukan pembedahan berdasarkan prosedur-prosedur tertentu (surgical procedure) dengan baik. Hygeia, seorang asistennya, yang kemudian menjadi istrinya juga telah melakukan upaya-upaya kesehatan. Perbedaan antara Aesculapius dan Hygeia dalam pendekatan/penanganan masalah kesehatan adalah, Aesculapius melakukan pendekatan pengobatan penyakit, setelah penyakit tersebut terjadi pada seseorang. Sedangkan Hygeia mengajarkan kepada pasien-pasiennya, pendekatan masalah kesehatan melalui “hidup seimbang”, menghindari makanan/minuman beracun, makan makanan yang bergizi (baik), cukup istirahat dan melakukan olahraga. Apabila orang yang jatuh sakit Hygeia lebih menganjurkan melakukan upaya-upaya alamiah untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut, antara lain dengan lebih baik memperkuat tubuhnya dengan makanan yang baik daripada dengan pengobatan/pembedahan.
Dari cerita mitos Aesculapius dan Hygeia tersebut, akhirnya muncul 2 (dua) aliran atau pendekatan dalam menangani masalah-masalah kesehatan. Kelompok atau aliran pertama cenderung menunggu terjadinya penyakit (setelah sakit), yang selanjutnya disebut pendekatan kuratif (pengobatan). Kelompok ini pada umumnya terdiri dari dokter, dokter gigi, psikiater, dan praktisi-praktisi lain yang melakukan pengobatan penyakit baik fisik, psikis, mental maupun sosial.
Filsuf Yunani bernama Hippocrates (460-377 SM), yang dikenal sebagai Bapak Ilmu Kedokteran, dalam salah satu tulisannya berspekulasi tentang peran makanan dalam “pemeliharaan kesehatan dan  penyembuhan penyakit” yang menjadi dasar perkembangan ilmu dietetika yang belakangan dikenal dengan “Terapi”.
Mesir Kuno juga sudah menekankan pentingnya kebersihan, tetapi hal ini untuk tujuan keagamaan atau status sosial, bukan dilakukan dalam rangka pemeliharaan status kesehatan masyrakat. Para ahli arkeologi telah menemukan bukti-bukti sejarah yang ada bahwa pada masa itu, masyarakat Mesir pada umumnya telah memiliki kamar mandi sederhana dan jamban. Masyarakat Mesir memperhatikan penampilan dan kebersihan  pribadi, dan terdapat bukti lainnya menunjukkan bahwa mereka menggunakan rias mata bertujuan melindungi mata mereka dari penyakit. Begitupun saat mereka beristirahat tidur menggunakan kelambu. Petinggi agama menjadi contoh bagi masyarakat Mesir Kuno dalam kesehariannya, mereka menjaga kebersihan diri dengan sangat hati-hati. Mereka secara teratur membasuh diri mereka, pakaian dan cangkir minum. Mesir tidak menggunakan kebersihan untuk menangkal penyakit, melainkan untuk menarik dewa-dewa, dengan menggunakan mantra, jimat, dan jampi-jampi. Mereka tidak memiliki sistem kesehatan masyarakat yang modern  seperti saluran pembuangan terorganisir, kesehatan umum dan perawatan medis.
Pada zaman ini juga diperoleh catatan bahwa telah dibangun tempat pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrin tersebut bukan karena kesehatan. Dibangunnya latrin umum pada saat itu bukan karena tinja atau kotoran manusia dapat menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak enak dan pandangan yang tidak menyedapkan. Demikian juga masyarakat membuat sumur pada waktu itu dengan alasan bahwa minum air sungai yang mengalir dan kotor itu tidak terasa enak, bukan karena minum air sungai dapat menyebabkan penyakit (Greene, 1974).
Dari dokumen lain tercatat bahwa pada zaman Romawi Kuno telah dikeluarkan peraturan yang mengharuskan masyarakat melaporkan setiap kegiatan dalam pembangunan rumah, melaporkan adanya binatang-binatang yang berbahaya, dan binatang peliharaan yang menimbulkan bau. Bahkan pada waktu itu telah ada keharusan pemerintah kerajaan harus melakukan supervisi atau peninjauan kepada tempat minum-minum (public bar), warung makan, dan tempat-tempat pelacuran (Hanlon, 1974).
Dari berbagai catatan tersebut dapat dilihat bahwa masalah kesehatan masyarakat khususnya penyebaran penyakit menular sudah begitu meluas, namun upaya pemecahan masalah kesehatan masyarakat secara menyeluruh belum banyak dilakukan pada zaman itu. Pada permulaan abad pertama sampai kira-kira abad ke-7 kesehatan masyarakat makin dirasakan kepentingannya karena berbagai macam penyakit menular mulai menyerang sebagian besar penduduk dan telah menjadi epidemi bahkan di beberapa tempat telah menjadi endemi.
Sejak abad ke-7, penyakit Kolera telah tercatat menyebar dari Asia khususnya dari Timur Tengah dan Asia Selatan ke Afrika. India sejak abad ke-7 disebutkan telah menjadi pusat endemi Kolera. Di samping itu, penyakit Lepra (disebut juga Penyakit Kusta) juga telah menyebar mulai dari Mesir ke Asia Kecil dan Eropa melalui para pendatang.
Dalam upaya mengatasi epidemi dan endemi penyakit, telah mulai diperhatikan masalah lingkungan, terutama hygiene dan sanitasi lingkungan. Pembuangan kotoran manusia (latrin), pengusahaan air minum yang bersih, pembuangan sampah, ventilasi rumah telah tercatat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat  pada waktu itu.
Pada abad ke-14, tepatnya di tahun 1340, terjadi wabah penyakit Pes (disebut juga sebagai penyakit Sampar) yang dahsyat di negara Cina, India dan Mesir. Tercatat ratusan ribu orang meninggal di negara-negara tersebut. pada tahun 1377 kota Roguasa menetapkan peraturan bahwa penumpang dari daerah terjangkit Penyakit Pes harus tinggal di suatu tempat di luar pelabuhan selama 2 bulan supaya bebas dari penyakit. Itulah sejarah tindakan karantina dalam bentuk isolasi pertama kali dilakukan terhadap manusia. Pada tahun 1383 di Marseille, Prancis, ditetapkan UU Karantina yang pertama dan didirikan Station Karantina yang pertama.
Oleh sebab itu, wabah penyakit Pes disebut “The Black Death”. Keadaan atau wabah penyakit-penyakit menular ini berlangsung sampai menjelang abad ke-18. Di samping wabah Pes, wabah Kolera dan Tipus masih terus berlangsung.
Pada tahun 1603 lebih dari 1 di antara 6 orang meninggal, dan pada tahun 1663 sekitar 1 di antara 5 orang meninggal karena penyakit menular. Pada tahun 1759, 70.000 orang penduduk kepulauan Cyprus meninggal karena penyakit menular. Penyakit-penyakit lain yang menjadi wabah pada waktu itu antara lain adalah penyakit Difteri, Tipus, dan Disentri.
Memasuki abad ke-16 berkembang doktrin bahwa bukan saja pemeliharaan kesehatan yang dapat dicapai dengan pengaturan makanan tetapi juga hubungan antara makanan dan usia. Misalnya Cornaro, yang hidup lebih dari 100 tahun (1366-1464) dan Francis Bacon (1561-1626) berpendapat bahwa “makanan yang diatur dengan baik dapat memperpanjang umur”. Memasuki abad ke-17 dan ke-18, berbagai temuan baik yang bersifat kebetulan maupun dirancang memperjelas hubungan antara makanan dengan kesehatan.

2.      Periode Ilmu Pengetahuan
Bangkitnya ilmu pengetahuan pada abad ke-18 dan awal abad ke -19 mempunyai dampak yang luas terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Bila pada abad-abad terdahulu masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dengan pendekatan yang dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke-19 masalah kesehatan mulai dipandang sebagai masalah yang kompleks. Oleh sebab itu, pendekatan masalah kesehatan perlu kiranya dilakukan secara komprehensif dan multisektoral.
Di samping itu, pada abad ilmu pengetahuan juga mulai ditemukan berbagai macam penyebab penyakit dan vaksin sebagai pencegah penyakit. Louis Pasteur telah berhasil menemukan vaksin untuk mencagah penyakit Cacar, Joseph Lister menemukan asam carbol (carbolic acid) untuk sterilisasi ruang operasi dan William Marton menemukan ether sebagai obat anestesi pada waktu operasi.
Pada abad ke-18 ditemukan adanya hubungan antara proses pernapasan yaitu proses masuknya oksigen ke dalam tubuh dan keluarnya karbondioksida, dengan pengolahan makanan dalam tubuh oleh Antoine Laurent Lavoisier (1743-1974). Lavoisier bersama seorang ahli fisika Laplace merintis untuk pertama kalinya penelitian kuantitatif mengenai pernapasan dengan percobaan binatang kelinci. Oleh karena itu, Lavoisier selain sebagai Bapak Ilmu Kimia, di kalangan ilmuwan gizi dikenal juga sebagai Bapak Ilmu Gizi Dunia.
Penyelidikan dan upaya kesehatan masyarakat secara ilmiah dilakukan pada tahun 1832 di Inggris. Pada waktu itu sebagian besar rakyat Inggris terserang wabah Kolera, terutama terjadi pada masyarakat yang tinggal di perkotaan yang miskin. Kemudian parlemen Inggris membentuk  komisi dan penyelidikan dan penanganan masalah wabah Kolera ini.
Edwin Chadwick seorang pakar sosial (social scientist), juga sebagai ketua komisi tersebut melaporkan hasil penyelidikannya sebagai berikut; Masyarakat hidup di suatu kondisi sanitasi yang jelek, sumur penduduk berdekatan dengan aliran air kotor dan pembuangan kotoran manusia. Air limbah yang mengalir terbuka tidak teratur, makanan yang dijual di pasar banyak dikerumuni lalat dan kecoa. Di samping itu, ditemukan sebagian besar masyarakat miskin, bekerja rata-rata 14 jam per hari, dengan gaji yang di bawah kebutuhan hidup sehingga sebagian masyarakat tidak mampu membeli makanan yang bergizi.
Laporan Chadwick ini dilengkapi dengan analisa data statistik yang bagus dan sahih. Berdasarkan laporan hasil penyelidikan Chadwick ini, akhirnya parlemen mengeluarkan undang-undang yang isinya mengatur supaya kesehatan penduduk, termasuk sanitasi lingkungan, sanitasi tempat kerja, dan pabrik. Pada tahun 1848, John Simon ditunjuk oleh pemerintah Inggris untuk menangani masalah kesehatan penduduk.
Pada era ini banyak penyakit tropis meluas ke Eropa Utara dan Amerika Utara (abad 17-19). Beberapa penyakit yang menandai era itu, misalnya Plasmodium Vivax (Malaria), Plague, Tipus, Kolera dan Cacar. Ilmu kedokteran tropis berasal dari Inggris, yang dikembangkan sebagai komponen penting dari Future Development of British Economic and Social Imperialism. Berbagai disiplin ilmu yang terlibat antara lain adalah kesehatan masyarakat, perjalanan dan eksplorasi, ilmu pengetahuan alam, teori evolusi, dan pengetahuan tentang penyebab penyakit.
Beberapa lembaga dan perguruan tinggi dunia yang mengembangkan ilmu kedokteran tropis di antaranya adalah di School of Tripical Medicine, London (1899), Liverpool School of Tropical Medicine (1899), London School og Hygiene and Trapical Medicine (1929), Ross Institute for Tropical Hygiene (1934). Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 mulai dikembangkan pendidikan John Hopkins, seorang pedagang wiski dari Baltimore Amerika mempelopori berdirinya universitas dan di dalamnya terdapat sekolah (Fakultas) Kedokteran.
Tahun 1908 sekolah kedokteran mulai berdiri dan menyebar ke Eropa, Kanada, dan sebagainya. Dari kurikulum sekolah-sekolah kedokteran tersebut terlihat bahwa kesehatan masyarakat sudah diperhatikan. Tahun kedua para mahasiswa sudah mulai melakukan kegiatan penerapan ilmu di masyarakat. Pengembangan kurikulum sekolah kedokteran sudah didasarkan pada suatu asumsi bahwa penyakit dan kesehatan itu merupakan hasil interaksi yang dinamis antara faktor genetik, lingkungan fisik, lingkungan sosial (termasuk kondisi kerja), kebiasaan perorangan dan pelayanan kedokteran/kesehatan.
Dari segi pelayanan kesehatan masyarakat, pada tahun 1855 pemerintah Amerika telah membentuk Departemen Kesehatan yang pertama. Fungsi departemen ini adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan bagi penduduk (public), termasuk perbaikan dan pengawasan sanitasi lingkungan.
Departemen kesehatan ini sebenarnya merupakan peningkatan departemen kesehatan kota yang telah dibentuk di masing-masing kota, seperti Baltimore telah terbentuk pada tahun 1798, South Carolina tahun 1813, dan di Philadelphia tahun 1818.
Pada tahun 1872 diadakan pertemuan orang-orang yang mempunyai perhatian kesehatan masyarakat baik dari universitas maupun dari pemerintah kota di New York. Pertemuan tersebut menghasilkan berdirinya Asosiasi Kesehatan Masyarakat Amerika (American Public Health Association).
Deklarasi Alma-Ata tahun 1978 diadopsi pada Konferensi Internasional WHO (World Health Organization) tentang kesehatan. Hasil konferensi itu antara lain mengemukakan pentingnya tindakan mendesak oleh pemerintah, petugas kesehatan dan masyarakat dunia untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan semua orang. Deklarasi ini merupakan deklarasi internasional pertama yang menggarisbawahi pentingnya perawatan kesehatan primer, yang sejak itu diterima oleh negara-negara anggota Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai kunci untuk mencapai tujuan “Kesehatan Untuk Semua”.    
 
1.2   SEJARAH PERKEMBANGAN KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA
1.       Masa Pra Kemerdekaan
Sejarah perkembangan kesehatan masyarakat di Indonesia dimulai sejak pemerintahan Belanda pada abad ke-16. Kesehatan masyarakat di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya upaya pemberantasan penyakit Cacar dan Kolera yang sangat ditakuti masyarakat pada waktu itu.
Kolera masuk ke Indonesia tahun 1927 dan tahun 1937 terjadi wabah Kolera Eltor di Indonesia kemudian pada tahun 1948 penyakit Cacar masuk ke Indonesia melalui Singapura dan mulai berkembang di Indonesia. Berawal dari wabah Kolera tersebut maka pemerintah Belanda melakukan upaya-upaya kesehatan masyarakat.
Bidang kesehatan masyarakat lain, pada tahun 1807 di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Daendles, dilakukan pelatihan praktik persalinan untuk dukun bayi. Akan tetapi, upaya ini tidak berlangsung lama karena langkanya tenaga pelatih kebidanan. Pada tahun 1930, pelatihan di mulai lagi dengan didaftarnya para dukun bayi sebagai penolong dan perawatan persalinan. Selanjutnya baru pada tahun 1952 pada zaman kemerdekaan pelatihan dukun bayi dilakukan lagi secara lebih cermat.
Pada tahun 1851 sekolah dokter Jawa didirikan oleh dr. Bosch, kepala pelayanan kesehatan sipil dan militer dan dr, Bleeker di Indonesia. Kemudian sekolah ini terkenal dengan nama STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Arsten) atau sekolah untuk pendidikan dokter pribumi. Setelah itu pada tahun 1913 didirikan sekolah dokter yang kedua di Surabaya dengan nama NIAS (Nederland Indische Arsten School). Belanda mendirikan Laboratorium  Kesehatan (15-1-1888) di Jakarta. Tujuan menanggulangi Penyakit Beri-Beri di Indonesia dan Asia.
Pada tahun 1927, STOVIA berubah menjadi sekolah kedokteran dan akhirnya sejak berdirinya Universitas Indonesia tahun 1947 berubah menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kedua sekolah tersebut mempunyai andil yang sangat besar dalam menghasilkan tenaga-tenaga (dokter-dokter) yang mengembangkan kesehatan masyarakat Indonesia.
Tidak kalah pentingnya dalam mengembangkan kesehatan masyarakat di Indonesia adalah berdirinya Pusat Laboratorium Kedokteran di Bandung pada tahun 1888. Pada tahun 1958, pusat laboratorium ini berubah menjadi Lembaga Eykman dan selanjutnya disusul didirikan laboratorium lain di Medan, Semarang, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta. Laboratorium-laboratorium ini mempunyai peranan yang sangat penting dalam rangka menunjang pemberantasan penyakit seperti Malaria, Lepra, dan Cacar bahkan untuk bidang kesehatan yang lain seperti gizi dan sanitasi.
Pada tahun 1922 penyakit Pes masuk Indonesia dan pada tahun 1933, 1934 dan 1958 terjadi epidemi di beberapa tempat, terutama di pulau Jawa. Mulai tahun 1935 dilakukan program pemberantasan Pes dengan melakukan penyemprotan DDT (Dichloro Dyphenil Trichloroethane) terhadap rumah-rumah penduduk dan juga vaksinasi massal. Tercatat pada tahun 1941, 15.000.000 orang telah memperoleh suntikan vaksinasi.
Hydrich, seorang petugas kesehatan pemerintah Belanda pada tahun 1925, melakukan pengamatan terhadap masalah tingginya angka kematian dan kesakitan di Banyumas-Purwokerto pada waktu itu. Dari hasil pengamatan dan analisisnya tersebut ia menyimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini adalah karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan. Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang tempat, di kebun, selokan, kali, bahkan di pinggir jalan padahal mereka mengambil air minum juga dari kali. Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku penduduk. Oleh sebab itu, untuk memulai upaya kesehatan masyarakat, Hydrich mengembangkan daerah percontohan dengan melakukan propaganda (pendidikan) penyuluhan kesehatan. Sampai sekarang usaha Hydrich sebagai awal kesehatan masyarakat dan pendidikan kesehatan di Indonesia.
Tahun 1930, De Hass menemukan defisiensi Vitamin A, (1935) dan meneliti tentang KEP (Kurang Energi Protein). Tahun 1919, Jansen dan Donath meneliti masalah Gondok di Wonosobo, kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda memfasilitasi pembentukan Lembaga Eijkman. Beberapa kegiatannya berupa survei gizi di tahun 1927-1942 oleh Jansen dan kawan-kawan pada 7 (tujuh) lokasi bertempat di pulau Jawa, Pulau Seram, dan Lampung yang bertujuan untuk mengamati pola makan, keadaan gizi, pertanian dan perekonomian. Lembaga ini juga berhasill melakukan analisis bahan makanan yang sekarang dikenal sebagai Daftar Komposisi Bahan Makanan disingkat atau dikenal DKBM. Dr. Y. Sulianti Saroso mendirikan “Proyek Bekasi” sebagai proyek percontohan/model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, sebuah model keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.     
2.      Masa Era Kemerdekaan
a.       Masa orde lama
Lembaga Makanan Rakyat berada di bawah Kementrian Kesehatan RI, yang diketuai oleh Bapak Poerwo Soedarmo juga berhasil mempromosikan gizi yang baik dengan istilah “Empat Sehat Lima Sempurna” yang begitu populer pada tahun 1950 hingga pemerintahan dan juga ikut mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia).
Pada tahun 1951 konsep Bandung Plan diperkenalkan oleh dr. Y. Leimena dan dr. Patah, yaitu konsep pelayanan yang menggabungkan antara pelayanan kuratif dan preventif. Tahun 1956 didirikannya proyek Bekasi oleh Dr. Y. Sulianti Saroso di Lemah Abang, yaitu model pelayanan kesehatan pedesaan dan pusat pelatihan tenaga. Kemudian didirikan Health Centre (HC) di 8 (delapan) lokasi, yaitu di Indrapura (Sumut), Bojong Loa (Jabar), Salaman (Jateng), Mojosari (Jatim), Kesiman (Bali), Metro (Lampung), Daerah Istimesa Yogyakarta (DIY), dan Kalimantan Selatan.
Pada tanggal 12 November 1962 Presiden mencanangkan pemberantasan Malaria dan pada tanggal tersebut kemudian menjadi Hari Kesehatan Nasional (HKN). Pada tahap ini Indonesia ditandai dengan pencanangan Kopem (Komando Pemberantasan Malaria) oleh Presiden Soekarno yang kemudian diikuti penyemprotan nyamuk Malaria secara simbolis pada tanggal 12 November 1964, di desa Kalasan, kota Yogyakarta, yang kemudian kita kenal sebagai Hari Kesehatan Nasional itu. Di kemudian hari Kopem ini merupakan cikal bakal lahirnya konsep dan lembaga Puskesmas.    
b.      Masa orde baru
Pada bulan November 1967, dilakukan seminar yang membahas dan merumuskan program kesehatan masyarakat terpadu sesuai dengan kondisi dan kemampuan  rakyat Indonesia. Pada waktu itu dibahas konsep Puskesmas yang dibawakan oleh dr. Achmad Dipodilogo, yang mengacu kepada Konsep Bandung Plan dan Proyek Bekkasi. Kesimpulan seminar ini adalah disepakatinya sistem Puskesmas yang terdiri dari  tipe A, B, dan C. Dengan menggunakan hasil-hasil seminar tersebut Departemen Kesehatan menyiapkan rencana induk pelayanan kesehatan terpadu di Indonesia. Akhirnya pada tahun 1968 dalam rapat kerja kesehatan nasional, dicetuskan bahwa Puskemas adalah merupakan sistem pelayanan kesehatan terpadu, yang kemudian dikembangkan oleh pemerintah (Departemen Kesehatan) menjadi Pusat Pelayanan Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Puskesmas disepakati sebagai suatu unit pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan kuratif dan preventif secara terpadu, menyeluruh, dan mudah dijangkau, dalam wilayah kecamatan atau sebagian kecamatan di kota madya atau kabupaten. Kegiatan Puskesmas pada saat itu dikenal dengan istilah “Basic”. Ada Basic 7, Basic 13 Health Service. Kegiatan pokok Puskesmas mencakup:
1)      Kesehatan ibu dan anak
2)      Keluarga berencana
3)      Gizi
4)      Kesehatan lingkungan
5)      Pencegahan penyakit menular
6)      Penyuluhan kesehatan masyarakat
7)      Pengobatan
8)      Perawatan kesehatan masyarakat
9)      Usaha kesehatan gizi
10)  Usaha kesehatan sekolah
11)  Usaha kesehatan jiwa
12)  Laboratorium
13)  Pencatatan dan pelaporan.
Pada tahun 1969, sistem Puskesmas hanya disepakati 2 (dua) saja, yakni tipe A dan B, di mana tipe A dikelola oleh dokter, sedangkan tipe B hanya dikelola oleh seorang paramedis saja. Dengan adanya perkembangan tenaga medis, maka akhirnya pada tahun 1979 tidak diadakan perbedaan Puskesmas tipe A atau tipe B, hanya ada satu tipe Puskesmas saja, yang dikepalai oleh seorang dokter. Pada tahun 1979 juga dikembangkan satu piranti manajerial guna penilaian Puskesmas, yakni stratifikasi Puskesmas sehingga dibedakan adanya:
1)      Strata satu : Puskesmas dengan prestasi sangat baik
2)      Strata dua : Puskesmas dengan prestasi rata-rata atau standar
3)      Strata tiga : Puskesmas dengan prestasi di bawah rata-rata
Pada tahun 1978 Indonesia ikut menandatangani kesepakatan Visi: “Health For All By The Year 2000”, di Alma Ata, negara bekas Federasi Uni Soviet, pengembangan dari konsep “Primary Health Care”. Tahun 1979 Puskesmas menghapuskan pen-tipe-an dan dikembangkan Stratifikasi Puskesmas. Pada tahun 1984 dikembangkan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), yaitu pengembangan dari Pos Penimbangan dan karang gizi. Posyandu dengan 5 programnya, yaitu KIA, KB, Gizi, Penanggulangan Diare dan Imunisasi dengan 5 Meja (Notoadmodjo, 2005). Selanjutnya Posyandu bukan saja untuk pelayanan Balita tetapi juga untuk pelayanan ibu hamil. Bahkan pada waktu-waktu tertentu untuk promosi dan distribusi vit.A, Fe, Garam Yodium, dan suplemen gizi lainnya. Posyandu saat ini juga menjadi andalan kegiatan penggerakan masyarakat (mobilisasi sosial) seperti PIN, Campak, Vit.A dan sebagainya.    
c.       Masa pra reformasi
Tahun 1997 Indonesia mengalami krisis ekonomi. Kemiskinan meningkat, kemampuan daya beli masyarakat rendah, menyebabkan akses ke pelayanan kesehatan rendah, kemudian dikembangkan program kesehatan untuk masyarakat miskin yaitu, Jaminan Pelayanan Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK) pada tahun 1998 Indonesia mengalami reformasi berbagai bidang termasuk pemerintahan dan menjadi negara yang menganut paham demokrasi.
Tahun 2001 ekonomi daerah mulai dilaksanakan dan dikenal sebagai desentralisasi. Program-program kesehatan bernuansa desentralisasi dan sebagai konsekuensi negara demokrasi, program-program kesehatan juga banyak yang bernuansa “politis”. Tahun 2003 JPS-BK kemudian menjadi PKPS-BBM Bidang Kesehatan, tahun 2005 berubah lagi menjadi Asuransi Kesehatan Orang Miskin (Askeskin). Pada saat itu juga dikembangkan Visi Indonesia Sehat 2010 dengan Paradigma Sehat. Puskesmas dan Posyandu masih tetap eksis, bahkan Posyandu menjadi andalan ujung tombak “mobilisasi sosial” bidang kesehatan.
Dalam era otonomi dan demokrasi menuntut akuntabilitas dan kemitraan, sehingga berkembang Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik bidang kesehatan, maupun bukan menuntut akuntabilitas tersebut dalam berbagai bentuk partisipasi. Sebagai ‘partnership’ LSM-LSM tersebut program kesehatan yang bertanggung jawab adalah Promosi Kesehatan.
Promosi kesehatan harus menjadi ujung tombak semua program kesehatan dan melakukan sosialisasi  Visi Indonesia Sehat 2010 untuk mengubah paradigma sehat bagi petugas kesehatan dan masyarakat. Tugas lain promosi kesehatan melakukan advokasi, komunikasi kesehatan dan mobilisasi sosial, baik kepada pihak legislatif, eksekutif maupun masyarakat itu sendiri. Terutama melalui kemitraan  dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Referensi:
1.      Wibowo, Adik. 2014. Kesehatan Masyarakat di Indonesia: Konsep, Aplikasi dan Tantangan Ed.1, Cet.1. Jakarta: Rajawali Pers.
2.      Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat: Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta